Ditinjau dari
judul blog, 'Akankah Gemilang Masa Depan Anak-Anak Bangsa' maka blog ini berisi
tentang kegiatan atau kondisi anak-anak dimasa sekarang. Sesuai dengan alamat
blog ini 'abangsekarang.blogspot.com' bukan berarti itu berisi tentang kegiatan
atau kondisi abang saya, tetapi 'ABANG' merupakan singkatan dari 'Anak BANGsa'.
Ketika anda membaca blog ini, saya harapkan banyak makna-makna,
motivasi, dan dorongan-dorongan yang anda dapatkan. Meskipun bukan blogger
profesional, tetapi saya hanya ingin memberikan kesadaran akan keadaan
anak-anak dimasa sekarang. Blog ini bukan bermaksud memberikan sudutan atau
pojokan bagi anak-anak yang belum beruntung. Tetapi, ini sebagai bahan
refleksi, agar kita bisa lebih bersyukur dan berusaha dalam melakukan hal-hal
yang dicita-citakan (dalam artian cita-cita yang positif). Dan blog ini
diharapkan juga agar anak-anak yang beruntung, orang yang memiliki kemampuan,
orang yang memiliki kesadaran akan apa yg anak-anak ini butuhkan, dan
orang-orang lainnya agar bisa membantu teman-temannya yang belum beruntung.
Masalah-masalah
yang dihadapi negara kita adalah latar belakang, kurang dalam kecerdasan,
kemiskinan, dan kepadatan penduduk. Dan sekarang kita akan membahas tentang kekurangan
dalam kecerdasan dan sedikit menyinggung tentang kemiskinan.
Apakah anda
pernah mengenal / mendengar tentang Anak Jalanan ? Anak yang biasa banyak kita
temui di jalanan, perempatan lampu merah, berjalan kaki dengan badan kotor dan
baju compang-camping, itulah mereka.
Seharusnya,
mereka masih berada didalam lingkungan sekolah atau pendidikan, yang dimana
pendidikan sekarang sudah wajib diberikan kepada anak-anak seusia mereka. Tetapi
kenyataannya tidak, karena mereka sudah dituntut untuk mencari uang dari
sekarang oleh orang tua atau orang-orang yang tidak memiliki pandangan kedepan.
Berbanding terbalik
dengan anak-anak seusia mereka yang hidup dalam keluarga yang memiliki
kehidupan cukup hingga berkelebihan. Mereka diajarkan untuk bisa meraih ilmu
dan pendidikan setinggi mungkin, sehingga kelak mereka bisa hidup dengan
harapan memiliki pekerjaan dan penghasilan yang lumayan untuk kehidupan
selanjutnya.
Seperti yang
kita ketahui, pendidikan sekarang ada yang bersifat formal, informal, dan
nonformal. Dimana pendidikan tersebut memiliki manfaat untuk memberikan ilmu
kepada anak-anak. Bukan hanya sebatas ilmu dalam intelektual, tetapi dalam sosial
juga anak-anak bisa mendapatkannya.
Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU
Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun
keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan
sejak usia 0-8 tahun.
Pendidikan merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan untuk
mendapatkan wawasan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah
pertumbuhan dan perkembangan fisik(koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya
pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap
dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan
tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak.
Tetapi anak jalanan ini masih
belum mendapatkannya, walaupun sudah ada program pemerintah seperti dana BOS,
pendidikan gratis, dan yang lainnya. Sebenarnya ini bukan salah orang lain,
tetapi salah diri kita sendiri yang kurang memiliki kesadaran, rasa syukur, dan
usaha.
Mungkin saja anak jalanan tersebut
terbebani oleh biaya-biaya yang masih harus dibayar diluar program pemerintah,
misalnya buku tulis, alat tulis, seragam, sepatu, dan lainnya.
Tetapi seharusnya para orang tua
harus berusaha agar anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Bukannya
memaksa mereka untuk mencari uang dengan cara meminta-minta atau mengamen. Lalu,
orang tua dan anak-anak tersebut juga harus memiliki kesadaran, bahwa
pendidikan itu penting, sehingga mereka bisa mendapatkan kehidupan yang layak
dimasa yang akan datang. Dan seharusnya, pemerintah lebih banyak membuat
lapangan pekerjaan lebih banyak lagi, agar orangtua dan dewasanya bisa
mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak bagi mereka.
Terkadang jika kita memberikan
saran singkat kepada anak dan orang tua agar mereka mendapatkan pendidikan dan
diberikan kesempatan, mereka sering menolak mentah-mentah saran tersebut. Anak
biasanya hanya taat saja dengan perintah-perintah orang tuanya. Sehingga ketika
anak yang sudah memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan, dan mengharapkan
kesempatan untuk bersekolah dari orangtuanya, mereka sering dibentak, dimarahi,
bahkan terjadi kontak fisik antara orangtua dan anak tersebut.
Hal itu terjadi karena orangtua
dari anak tersebut beranggapan bahwa mereka tidak ada gunanya bersekolah saat
ini, karena mereka sudah bisa mendapatkan uang dengan cara meminta-minta dan
mengamen. Tetapi jika dilihat dari prospeknya, anak tersebut tidak akan
berkembang, malah akan menjadi kian malas dan tidak ingin mendapatkan
pendidikan. Dan walaupun mereka seharusnya sudah bisa mendapatkan kesempatan
untuk memperoleh pendidikan, mereka kadang tidak ingin menggunakannya, karena
mereka beranggapan bahwa konsumsi dan barang-barang yang mereka inginkanlah
yang paling penting.
Mental seperti itulah yang membuat
Indonesia makin hari makin terpuruk dari keadaan dalam hal pendidikan.
(Sekedar pengalaman)
Penelitian pernah dilakukan oleh
tentor bimbingan belajar saya yg berlatar belakang guru sosiologi. Berkenaan dengan
bahan skripsinya yang membahas anak-anak jalanan, beliau menceritakan kejadian
disaat ingin mendapatkan informasi dari anak jalanan secara langsung.
Disaat anak jalanan tersebut ingin
ditanyai sesuatu yang bersangkutan dengan kehidupan mereka, mereka tidak mau
menjawab kecuali ada imbalan. Kebiasaan inilah yang pasti sudah diajarkan oleh
orang tua atau pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab itu.
Pernah satu kali, ketika beliau sedang
bertanya-tanya tentang anak jalanan tersebut, anak tersebut langsung berkata
bahwa ada seseorang yang mengawasinya, dan langsung menyuruh beliau pergi agar
tidak terjadi masalah besar.
Dari hasil penelitian, beliau
mendapatkan informasi bahwa masing-masing mereka biasanya mendapatkan uang hampir
satu setengah juta rupiah dalam waktu satu bulan. Didalam lingkungan mereka,
banyak dilihat barang-barang yang sudah mereka miliki seperti mesin cuci,
sepeda motor, televisi dan lain-lainnya.
Hal ini yang membuat para orangtua dan anak tersebut semakin
kukuh dalam menjadi anak jalanan. Tetapi apa manfaatnya jika sudah bisa
mendapatkan uang, tetapi dengan cara seperti itu dan tidak mendapatkan ilmu
yang sepantasnya.
Sehingga diharapkan agar kita bisa membantu teman-teman kita
yang masih belum beruntung, dan membantu mereka dalam hal pendidikan. Walaupun kemungkinan
kesadaran mereka akan pentingnya pendidikan hampir sirna.